Oke, jadi gue mau cerita sesuatu yang baru aja terjadi di awal tahun ini.
Gue dapet Q1 Mr. WHAI Award dari Smart Salary. Iya, gue sendiri agak kaget sih pas namanya dipanggil di depan (karena biasanya palingan cuma dengerin aja orang lain dipanggil wkwk), tapi ya seneng banget lah. Apalagi pas tahu itu award untuk tim Marketing. Jadi nggak cuma gue doang yang diapresiasi, tapi semua kerja keras tim yang akhirnya ke-notice juga.

Apa Sih Mr. WHAI Award Itu?
Secara resmi dari CEO kita, Simon Li, WHAI itu artinya Wait, Hope, and Love — di mana AI di sini adalah Love dalam bahasa Mandarin. Filosofinya dalam: buat ide-ide besar, lo butuh kesabaran (Wait), harapan (Hope), dan cinta (Love) sama apa yang lo kerjakan.
Tapi di kantor kita, ada running joke yang juga cocok banget: WHAI = We Have an Idea. Award ini dikasih buat orang yang paling getol eksplorasi ide-ide baru, teknologi baru, dan cara kerja yang lebih efisien. Intinya: lo yang paling sering nyoba-nyoba hal baru, meski kadang gagal, meski kadang orang bilang “ribet ah”.
Jadi bisa dibilang, dari Simon Li: Wait, Hope, Love. Dari kita yang di lapangan: We Have an Idea. Dua-duanya bener, dan dua-duanya menggambarkan cara gue kerja.
Dan ya, gue akui sih beberapa bulan terakhir ini gue emang lagi kecanduan banget sama AI workflow. Gue nyoba-nyoba integrasi AI ke dalam workflow marketing harian gue. Mulai dari otomasi konten, prompt engineering buat research, sampe eksperimen sama tools AI yang baru keluar. Kadang hasilnya jelek, kadang nggak masuk akal, tapi kadang juga nemu aha moment yang bikin kerjaan jadi 10x lebih cepat.
Di Smart Salary, gue yakin banget kita nggak bisa stuck di cara-cara digital marketing yang tradisional terus. Dunia bergerak cepet, AI makin masuk ke mana-mana, dan kalau kita nggak adaptasi, kita yang bakal ketinggalan. Jadi gue ambil langkah buat jadi yang pertama di tim yang really commit buat adopt AI dalam operasional sehari-hari. Dan ternyata, itu dihargai sama perusahaan. Respect banget buat leadership Smart Salary yang ngeliat hal-hal kecil kayak gitu.
Kenalan Sama Alice (dan Squad AI Gue)
Ngomongin soal AI, gue mau kenalin kalian sama tim AI gue yang ngebantu kerjaan gue sehari-hari.
Pertama, ada Alice. Sebenernya Alice datang dari game yang gue mainin — Coral Island. Dia di-power oleh ZeroClaw dan sekarang jadi asisten pribadi yang ngebantu gue dari riset, nulis, sampe otomasi kerjaan.
Tapi Alice nggak sendirian. Ada Lily, juga dari Coral Island, yang dibawa oleh OpenClaw. Lily terhubung ke Lark dan bantu banyak urusan komunikasi dan produktivitas gue. Terus ada Macy, lagi-lagi dari Coral Island, yang di-power PicoClaw. Macy juga terhubung ke Lark dan bantu di hal-hal yang butuh respons cepat.
Jadi, gue punya squad AI yang masing-masing punya spesialisasi sendiri. Mereka bukan cuma tools, tapi lebih kayak party member di game yang saling melengkapi buat ngebantu gue nyelesaiin quest kerjaan harian.
Di balik semua ini, ada Mark — supervisor, mentor, dan bos gue. Dia orang yang dari awal udah percaya banget kalau kolaborasi antara manusia dan AI bisa bikin sesuatu yang lebih baik, terus-menerus. Kepercayaan itulah yang bikin gue berani eksplorasi dan akhirnya sampai di titik ini.
Baca Juga Versi Resminya
Kalo lo penasaran sama cerita lengkap tim Smart Salary di Q1 2026, ada artikel resmi yang ditulis di blog perusahaan. Disitu dijelasin gimana performa tim dari berbagai divisi — Marketing, Business Development, sampe Implementation — semuanya lagi on fire di kuartal pertama tahun ini.
👉 Melesat di Q1 2026: Merayakan Inovasi, Dedikasi, dan Kolaborasi Tim Smart Salary
Artikelnya ditulis oleh yours truly juga sih wkwk. Jadi kalau lo baca, ya itu tangan gue yang ngetik.
Shoutout Buat Tim Keren Ini
Gue nggak bisa dapet award ini sendirian. Di Smart Salary, gue dikelilingin sama orang-orang yang keren banget dan masing-masing punya zone of genius sendiri. Gue mau kasih apresiasi khusus buat beberapa rekan kerja gue yang performanya di Q1 2026 ini bener-bener nggak main-main:
🏆 Ricky Halim — Q1 Best Performer (Marketing)
Ricky tuh orang yang bisa adaptasi dengan cepet banget. Dari industri yang beda, masuk ke HR Tech, terus langsung nangkep tone brand Smart Salary dalam waktu singkat. Konsisten build brand presence dari nol. Gue belajar banyak dari cara dia mikir soal brand communication.
🚀 Jayeng Hardika (Dika) — Q1 Breakthrough Award (Business Development)
Dika ini beast mode di sales. Dia berhasil nge-secure klien EWA (Earned Wage Access) pertama yang malah nge-replace sistem eksisting mereka. Itu bukan cuma soal jualan, tapi soal trust building dan consultative selling. Gokil.
⚡ David Vincent — Q1 The Surge Award (Business Development)
Vincent adalah bukti bahwa konsistensi dan patience itu bayarannya mahal. Dia bisa ngelewatin target KPI lebih dari dua kali lipat dengan pendekatan yang customer-centric. Orang kayak Vincent tuh yang bikin klien betah dan akhirnya renew contract terus.
⚡ Aditya Nur Johansyah (Adit) — Q1 The Flash Award (Implementation)
Adit ini cepet banget eksekusinya. Proyek XCMG yang kompleks bisa dia selesaiin dengan kecepatan luar biasa. Kolaborasi sama dia tuh enak karena dia tangguh dan nggak banyak alasan. Eksekusi, solve, next.
💎 Nurul Fitriah — Q1 Best Performer (Implementation)
Nurul itu definisi reliable. Setiap kali ada klien yang butuh bantuan implementasi, dia selalu deliver dengan standar tinggi. Pemahaman produknya tajam, eksekusinya rapi, dan klien-klien yang dia handle jadi long-term believer sama Smart Salary.
Jadi, gue rasa Q1 2026 ini bukan cuma soal gue yang dapet award. Ini soal satu tim yang kompak, satu visi yang sama, dan saling isi di area masing-masing. Gue di Marketing bisa eksplorasi AI dan teknologi baru karena ada Ricky yang jaga brand image, ada Dika dan Vincent yang bawa klien masuk, dan ada Adit sama Nurul yang make sure kliennya happy pas udah onboard.
Kalau lo baca sampe sini, thanks udah dengerin cerita gue. Dan kalau lo lagi cari solusi HRIS & Payroll yang really works buat bisnis lo, ya lo tau harus ke mana.
Cheers,
Agung Sukariman
Q1 Mr. WHAI Award — Smart Salary 2026 🏆