<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><channel><title>Irony on Growth Systems Lab</title><link>https://agungsukariman.com/tags/irony/</link><description>Recent content in Irony on Growth Systems Lab</description><generator>Hugo -- 0.160.0</generator><language>EN</language><lastBuildDate>Wed, 08 Apr 2026 22:20:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://agungsukariman.com/tags/irony/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Ironi Seorang Digital Marketer: Nge-hack Router Xiaomi 3 Demi Memblokir Iklan</title><link>https://agungsukariman.com/blog/cara-flash-xiaomi-router-3-openwrt-adblock/</link><pubDate>Wed, 08 Apr 2026 22:20:00 +0700</pubDate><guid>https://agungsukariman.com/blog/cara-flash-xiaomi-router-3-openwrt-adblock/</guid><description>&lt;h2 id="kenapa-saya-membenci-iklan-padahal-kerjaannya-nge-iklan"&gt;Kenapa Saya Membenci Iklan (Padahal Kerjaannya Nge-iklan)&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;Ya, saya sadar ini ironi yang cukup lucu. Saya adalah digital marketer. Setiap hari saya bikin strategi iklan, optimasi kampanye, analisis data conversion rate, mikirin targeting yang paling efektif buat klien-klien saya. Tapi di sisi lain? Saya benci iklan. Sebenci-bencinya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bukan karena iklan itu jahat atau salah. Tapi karena saya &lt;em&gt;capek&lt;/em&gt;. Setiap hari sudah dikelilingi iklan di berbagai platform—Facebook, Instagram, Google, TikTok—you name it. Di kantor, di rumah, di jalan, di handphone. Iklan ada di mana-mana. Dan saya sudah cukup.&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>